Mengapa Sebagian Orang Merasa Ingin Bunuh Diri?

Artikel:  dr. Irnova Suryani
Editor:  Fito Aji Setiawan
Design:  Fellin
Apa Itu Perasaan Bunuh Diri?

Sebelum memahami jalur berpikir seseorang atau sebagian orang yang terpikir untuk bunuh diri, teman-teman sebaiknya membaca terlebih dahulu artikel kami sebelumnya, yaitu Kecenderungan Seseorang untuk Bunuh Diri

Karena kita harus secara jernih membedakan antara perasaan ingin bunuh diri/pikiran untuk bunuh diri dengan perilaku bunuh diri itu sendiri.

Kebanyakan orang yang pernah mengalami perasaan ingin bunuh diri tidak benar-benar berlanjut pada kejadian mengakhiri hidup. Namun, bukan berarti kita tidak melakukan intervensi pada orang-orang yang hendak mengakhiri hidupnya. Justru, di saat inilah saat yang tepat untuk memperoleh pertolongan ahli maupun dukungan lingkaran terdekat agar kejadian bunuh diri itu dapat tercegah. Apakah pertolongan di fase ini efektif mencegah sesorang melakukan bunuh diri? Ya, sangat efektif, banyak penelitian dan hasil intervensi yang membuktikannya.

Agar dapat turut serta menjadi orang-orang yang mampu memberikan pertolongan terbaik kepada orang-orang yang kita ketahui pernah terpikir untuk bunuh diri, mari kita mulai dengan mencari tahu, mengapa mereka merasa ingin bunuh diri?

Darimana Perasaan Bunuh Diri ini muncul?

Kita dapat memulai dari mempelajari perbedaan yang terjadi dalam otak dari orang yang berupaya bunuh diri dan individu yang depresi, namun tidak pernah mencoba bunuh diri. Pendekatan ini tidak hanya dapat membuat kita mulai tercerahkan, mengapa hal itu dapat terjadi, juga dapat membantu dalam mengupayakan strategi yang tepat.

Lalu mengapa yang kita pelajari melalui kasus-kasus depresi? Karena depresi merupakan ⅔ pintu masuk penyebab kasus-kasus bunuh diri.

Pikiran bunuh diri tidak melulu didahului fase depresi, yang perlu kita ingat, gangguan proses mental lainnya juga dapat menimbulkan pikiran yang berakhir pada perilaku bunuh diri. Anda dapat membaca artikel tentang gejala-gejala yang terjadi pada orang yang merasakan ingin bunuh diri (artikel sebelumnya).

Benang kusut mengapa seseorang merasa ingin bunuh diri, mulai teruntai satu persatu. Pun perlahan, sebagian penelitian terkait isu ini menyebutkan bahwa hal ini secara bio-fisiologis bisa nampak dari hasil scan otak maupun pemeriksaan bio-marker orang-orang yang berpikir tentang percobaan bunuh diri.

Bagaimana Bisa Timbul Perasaan Bunuh Diri?

Ide/pikiran bunuh diri dapat terjadi saat sesorang merasa tak mampu lagi mengatasi situasi bermasalah (mekanisme coping)  yang meliputi diri dan kehidupannya.

Apa Saja Kejadian Yang Memicu Terjadinya Perasaan Ingin Bunuh diri? Dan siapa Yang berisiko Mengalaminya?

Kejadian-kejadian yang mencetuskan pikiran tersebut dapat berupa kehilangan orang yang paling dicintai, kehilangan pekerjaan, penolakan, masalah keuangan, sakit yang tak kunjung sembuh dan sebagainya.

Sementara kejadian yang dikaitkan memperbesar risiko timbulnya  ide dan perasaan ingin bunuh diri, diantaranya:

  • Riwayat pernah menderita gangguan mental,
  • Riwayat kekerasan masa kecil maupun saat ini,
  • Riwayat keluarga dengan bunuh diri,
  • Perasaan menyerah, perasaan kesepian atau diasingkan,
  • Dibawah pengaruh alkohol ataupun obat-obatan tertentu, anorexia, kebingungan gender dan sebagainya.
Memahami Proses di Otak dan Bio-molekuler Penderita Gangguan Mental Yang Ingin Bunuh Diri

Kita dapat memulai mengurai benang kusut dari muara akhir. Yaitu apa yang terjadi di sistem saraf pusat orang yang mengakhiri hidupnya. Adalah abnormalitas distribusi GABA (Gama amino butirat) di otak, yang sejak 10 tahun belakangan pasca penelitian peneliti neurosains dan koleganya, Michael Poulter, Uni of Western Ontario, Canada━dianalisa sebagai salah satu faktor yang tampak pada hasil pemeriksaan kasus-kasus pasca bunuh diri pada penderita depresi.

GABA adalah neurotransmitter yang berperan menghambat aktivitas saraf otak. Ia bertindak sebagaimana rem saat kita mengemudi. Poulter dan koleganya menjelaskan, salah satu jenis reseptor untuk GABA ini kurang secara signifikan pada bagian otak korteks frontopolar yang bertanggung jawab untuk HOTS (higher order thinking skill) seperti mengambil keputusan pada orang-orang yang memutuskan melakukan bunuh diri. Mekanisme lebih lanjut, hingga saat ini masih diselidiki.

Sementara itu, pada studi yang berbeda, seorang psikiater bernama Jollant dari Universitas McGill di Montreal, menyatakan pada observasi scan otak pasien depresi yang berpikir untuk bunuh diri, tampak bagian otak orbitofrontal aktif bereaksi saat melihat wajah marah dihadapannya, dibanding penderita depresi yang tak berpikir untuk bunuh diri. Otak bagian ini adalah bagian yang berfungsi menentukan apa yang menjadi perhatian penting bagi diri seseorang.

Di ekspreimen yang berbeda, saat melakukan uji terhadap gambling cards game, penderita yang memiliki ide bunuh diri yang telah melakukan percobaan bunuh diri tampak tak terlalu mengindahkan risiko dari pilihan-pilihan kartu mereka. Berbeda dari kebanyakan individu sehat, yang lebih memilih mencoba berbagai alternatif pilihan kartu dengan ragam hasil menguntungkan atau merugikan. Namun pihak yang sehat melakukan pembelajaran dari percobaan trial dan error kemudian mengetahui risiko yang akan ia peroleh dari tiap pilihan kartunya. Sementara, penderita depresi dengan percobaan bunuh diri, kerap mengambil kartu yang sama tanpa menitikberatkan risiko yang diambilnya━Ia tetap memilih jalur yang sama. Bagian korteks orbitofrontal pada penderita depresi yang melakukan percobaan bunuh diri pun tampak tidak terlalu aktif saat ia berulang kali memilih mengambil kartu yang buruk dan berisiko. Dari kesimpulan sementara ini, penderita tampak tidak terlalu mementingkan proses melihat potensi risiko dan mengambil keputusan terbaik dalam suatu tantangan. Di sisi lain, ia justru amat responsif terhadap emosi tertentu contohnya kemarahan, yang begitu amat penting baginya.

Credit: makalah presentasi Prof.J.John Mann, MD, psikiater New York State Psychiatric Institute

Hal ini menjelaskan bahwa reaksi yang mengiringi pikiran dan perasaan seseorang terhadap bunuh diri, juga sangat dipengaruhi kuasa/regulasi emosi dan proses berpikir yang terbiasa terbentuk baik itu sejak fase epigenetik (kanak-kanak awal) hingga dewasa pada diri seseorang saat berhadapan dengan situasi-situasi tak menyenangkan yang ia hadapi. Hal ini juga menjelaskan, mengapa banyak remaja amat mudah berpikir dan melakukan bunuh diri ini, karena maturitas berpikir mereka juga belum benar-benar sempurna.

Mari kita bantu diri kita, anak-anak kita, saudara kita, teman-teman kita, atau orang yang kita ketahui memiliki potensi dan perasaan ingin bunuh diri. Karena boleh jadi bantuan kita dalam memahami perasaan yang mereka rasakan dan membantu mereka mendapatkan bantuan, adalah penyelamat paling penting dalam hidup mereka.

Referensi

1.https://douglas.research.mcgill.ca/processing-decision-making-and-social-threat-patients-history-suicidal-attempt-neuroimaging
Processing of decision making and social threat in patients with history of suicidal attempt : a neuroimaging replication study. Ollie E, Ding Y, Le Bars E, de Champfleur NMrnjot, Mura T, Bonafe, Courtet P, Jollant F

2.Jurnal ncbi.nlm.nih.gov
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2854532
Altered Organization of GABAa Receptor mRNA Expression in the Depressed Suicide Brain, Michael O.Poulter & colleagues.

3.Makalah presentasi Prof.J.John Mann MD Newyork State Psychiatric Institute : suicidal behavior.

4. www.medicalnewstoday.com : suicidal ideation : symptomps, causes, prevention, resourches etc

Leave a Reply