Apakah Instagram Toxic?

Artikel:  Wening Sukmawati
Editor:  Fika Dian Nuranita
Design:  Hariani Rizqi

“Ís Instagram toxic?”

Nah, sebelum menjawab pertanyaan tersebut, yuk kita kenali terlebih dahulu mengenai instagram itu sendiri.

Instagram merupakan salah satu media sosial yang tengah menjadi fenomena global serta merupakan bentuk komunikasi elektronik yang populer dalam beberapa tahun terakhir.  Luasnya jangkauan instagram mampu menghubungkan interaksi manusia di berbagai belahan bumi sehingga mampu memperluas komunikasi tanpa tatap muka, walaupun hanya menyajikan biografi mini penggunanya. (Rajeev & Jobilal, 2015). Berbagai teknologi komunikasi pada dasarnya diciptakan untuk membuat hidup manusia menjadi semakin mudah dan nyaman, tetapi perangkat tersebut digunakan oleh khalayak dengan berbagai motivasi dan kepentingan sehingga tidak jarang menimbulkan dampak buruk yang tidak diinginkan. Sekalipun belum ada pembuktian secara ilmiah, bahwa maraknya perilaku sosial menyimpang adalah akibat penyalahgunaan teknologi media komunikasi namun suatu kenyataan bahwa kedua fenomena tersebut terjadi pada waktu yang bersamaan (Efendi, dkk, 2017 ).

Penggunaan instagram yang secara progresif menyebar ke dalam budaya kita, menyebabkan terjadinya erosi identitas.  Studi penelitian neurologis menyatakan bahwa orang yang menghabiskan banyak waktu di internet mirip dengan pecandu narkoba. Semakin banyak waktu yang dihabiskan di internet, maka semakin sedikit interaksinya dengan orang di sekitarnya (Sampathirao, 2016). Laporan Forbes menunjukkan bahwa 89% respondennya diketahui membuang waktu di media sosial saat bekerja dan Survei Global Web Index mengungkapkan bahwa 28% dari waktu yang digunakan untuk online adalah di media sosial. Hal tersebut menyebabkan menurunnya produktivitas seseorang. Dan hal yang paling mendapat sorotan dari dampak negatif media sosial saat ini ialah Cyber Bullying, yakni suatu bentuk penindasan baru menggunakan internat atau telepon seluler Mereka yang melakukan cyber bullying  memiliki kemampuan untuk menyembunyikan identitas mereka untuk meneror korbannya. Penelitian National Children’s Home di Inggris menemukan bahwa satu dari empat anak menjadi korban cyber bullying. Hal tersebut menimbulkan luka mental atau depresi  yang mengarah pada bunuh diri (Amedie, 2015).

Dewasa ini, instagram telah secara radikal mengubah cara kita berkomunikasi. Namun terdapat beberapa manfaat dari instagram itu sendiri, antara lain memudahkan seseorang untuk memperoleh suatu hal yang diinginkannya, seperti: (a) arus informasi yang dapat dengan mudah dan cepat diakses di mana saja dan kapan saja, (b) sebagai media transaksi jual beli, (c) sebagai media hiburan,  (d) sebagai media komunikasi yang efisien, dan (e) sarana pendidikan dengan adanya buku digital (Kompasiana, 2010). Di samping itu, dalam sebuah artikel yang berjudul “Social Media and Young People’s Mental Health” karya  Brayan Herrera yang diterbitkan oleh the Mental Health Foundation menyatakan bahwa media sosial merupakan alat yang ampuh bagi remaja untuk menyuarakan pendapatnya dan menjadikan mereka warga negara yang aktif serta kreatif (Phoon, 2017). Selain itu manfaat instagram, ialah sebagai “break the ice”, yakni bagi orang yang pemalu, media sosial dapat dijadikan sebagai jalan untuk mempelajari cara menjalin pertemanan.  Instagram juga mengajarkan penggunanya untuk memikirkan, mempertimbangkan kata-kata atau konten yang akan dipostingnya. Sedangkan, pada komunikasi langsung secara tatap muka, mereka cenderung spontan untuk merespon orang yang sedang berkomunikasi dengannya dan memiliki sedikit  waktu untuk memikirkan apa yang ingin disampaikannya.

Instagram hadir di era kini dengan menyajikan dampak positif dan negatifnya. Lantas “Is Instagram toxic?”, jawabannya kembali kepada pengguna Instagram itu sendiri. Instagram tidak akan menjadi toxic  selama penggunanya mampu mengendalikan dan membatasi pemakaiannya. Dengan kata lain, instagram tidak akan memberikan dampak negatif bagi kesehatan fisik, mental, dan sosial selama penggunanya mampu menggunakannya dengan bijak. Walaupun berkomunikasi di dunia maya dapat menghambat keterampilan komunikasi secara langsung tetapi jika digunakan sesuai kebutuhan maka dapat membantu orang-orang  menjadi lebih nyaman berkomunikasi, khususnya bagi mereka yang merasa malu melakukannya secara langsung. So, mulai saat ini mari kita gunakan instagram sebijak mungkin agar Instagram tidak menjadi toxic melainkan tempat kita mengambil dan menebar hal-hal positif untuk lingkungan sekitar kita. Jadikan instagram tempat kita menebar senyum dan merangkul orang-orang di sekitar agar pengguna instagram lain senantiasa mendapatkan hal positif dan tidak pernah merasa sendiri. Salam senyum.

Referensi

Amedie, Jacob. 2015. The Impact of Social Media on Society.  Santa Clara University.

Efendi, Dkk. 2017. Analisis Pengaruh Penggunaan Media Baru Terhadap Pola Interaksi Sosial Anak Di Kabupaten Sukoharjo. Jurnal Penelitian Humaniora, Vol. 18, No. 2, Agustus 2017: 12-24.

Kavitha & Bhuvaneswari. 2016. Impact of Social Media on Millenials-A Conseptual Study. Journal of Management Sciences and Technology. 4 (1),

Kompasiana. 2010. Memahami Istilah-Istilah Baru New Media. http://new-media.kompasiana. com/2010/02/05/memahami-istilah-media-baru-new-media/

Phoon, Andie, 2017. Social Media and Its Stark Influence on Society.  WRIT: GWS Journal of First-Year Writing: vol 1.

Rajeev M.M. and Jobilal. 2015. Effects of Social Media on Social Relationships: A Descriptive Study on the Impact of Mobile Phones among Youth Population. International Research Journal of Social Sciences. Vol. 4(2), 11-16.

Sampath Prabhakararao. 2016. Social Media and Social skills. The International Journal of Indian Psychology. Volume 3, Issue 4, No. 57

Leave a Reply