When Teasing Turns into Bullying

Artikel:  Dewi Joanne
Editor:  Fika Dian Nuranita
Design:  Dhea Lady

Entah kerapkali beberapa orang merasa “lebih baik” kalau mencela seseorang. Ada saja bahan sebagai celaan yang dianggap hanya “bercanda”.  Apalagi kalau sengaja dicari-cari. Disadari atau tidak disadari, sengaja atau tidak sengaja, mungkin semua orang pernah mencela. Apakah kamu pernah bingung bagaimana caranya membedakan teasing (gurauan) dan penindasan (bullying)? Apa sebenarnya yang membedakan hal ini? Mari kita telaah bersama dalam artikel ini.

Apa itu teasing?

Teasing bila diartikan dalam kamus ada berbagai definisi, mulai dari godaan, gurauan, olokan hingga celaan.

Dalam kamus Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko (2006) arti cela yaitu cacat, cedera, aib, fadihat, keburukan, kecewa, kejelekan, kekurangan, kenistaan, noda, belang, borok, retak, kecaman, komentar, kritik.

Sedangkan arti mencela yaitu mencacat, mengecam, mengkritik, meledek, mencemeeh, mencemooh, mengata-ngatai, mengejek, menggonjak, menghina, mengolok-olok, melecehkan, menyepelekan, meremehkan, mencebik, mencibir, mengecimus.

Mencela bisa diartikan sedang membuka borok seseorang karena membeberkan noda dan kekurangannya, cenderung mengkritik dan mengecam.

Tak bisa disangkal, ketika mencela berpotensi menimbulkan perselisihan atau pertengkaran. Rasanya jarang orang yang dicela menerima dengan lapang dada, apalagi dengan hati yang gembira. Sebaik-baiknya mencela, tetap dianggap menohok seseorang.

Bisa saja mencela hanya sebagai guyonan saja, tetapi bisa juga sangat serius apabila terselubung maksud tertentu.

Tetapi anehnya ada orang yang memang memiliki “hobi” mencela. Kalau tidak mencela seperti ada yang kurang. Saking seringnya mencela, menjadi hal biasa dan tidak merasa bersalah lagi.

Apa mencela sama dengan mengkritik?

Mencela konotasinya negatif. Namun, ada orang yang berkilah bahwa mencela yang dilakukannya sekadar melontarkan kritik saja. Tetapi jangan lupa, biarpun mengkritik adalah satu bagian dari makna mencela, tetapi pada dasarnya mencela tidak dapat disamakan dengan mengkritik.

Menurut kamus KBBI (Depdiknas, 2014) arti kritik adalah kupasan kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya atau pendapat.

Jadi, mengkritik sifatnya lebih membangun karena memberi saran dan pertimbangan baik buruk sehingga bisa memperbaiki perilaku atau kesalahan tertentu. Intinya, mengkritik levelnya lebih baik ketimbang mencela.

Lalu, mengapa orang mencela?

Orang yang hobi mencela dicurigai punya iri hati terpendam. Sering kita dengar omongan: iri tanda tak mampu.

Bisa jadi pencela ini ingin memiliki posisi yang sama dengan orang yang dicela, tetapi tidak kesampaian. Sebaliknya, mungkin juga pencela malah ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih mampu. Dengan kata lain, iri hati yang dimilikinya terselubung ambisi pribadi tersembunyi.

Oleh karena itu, tak heran bila pencela sering bersikap impulsif. Sikap yang mengungkapkan alasan tak masuk akal dengan mencari sisi buruk dan semua kekurangannya.

Bahkan, kadang berlebihan karena rasa tak suka. Lebih parah lagi kalau dilandasi rasa benci. Maka, pencela yang tak bisa mengontrol dirinya, sering terpeleset pada ranah fitnah.

Mencela ternyata terdiri dari berbagai jenis, apa saja?
  1. Mencela yang bermaksud bercanda

Ini terjadi dimana seseorang hanya berniat bercanda mengenai orang lain. Atau hanya berniat menggoda temannya saja. Keluarga maupun teman seringkali saling menggoda hanya dalam konteks bercanda.

  1. Mencela yang bermaksud tidak baik

Ini terjadi ketika kamu dicela, dijatuhkan, saat orang memanggilmu dengan nama-nama yang tidak pantas, atau bahkan menyembunyikan barang-barang milikmu. Walaupun sangat jarang terjadi, itu bisa saja menyakitimu, meskipun mereka tidak berniat menyakiti. Terkadang orang tidak memikirkan perasaanmu saat melakukan ini, dimana sang pelaku menganggap hal ini lucu dan tidak memikirkan jika ini menyakiti hatimu.

Kapan teasing berubah menjadi bullying?

Ketika gurauan itu menjadi berulang-ulang terhadap kekurangan orang tersebut dan pelaku memiliki intensi untuk menjatuhkan/merusak kepercayaan diri orang yang dicela.

Menurut psikolog Barbara Coloroso (2007), orang yang suka mencela termasuk mempraktikkan bullying verbal. Dikatakan demikian karena sifat bullying verbal itu mengejek, mengolok-olok, mencemooh, menghina, memfitnah, mencela.

Bullying verbal biasanya dilakukan berkali-kali dengan tujuan merendahkan. Di samping itu, bullying verbal dilakukan dengan ucapan yang dilontarkan secara langsung dan tidak langsung. Harapannya menjatuhkan mental orang yang dicela.

Apabila orang yang dicela tampak sedih dan menderita, maka pencela tampak gembira. Tetapi, kalau orang yang dicela kelihatan cuek saja dan tidak menanggapi, maka pencela akan terlihat uring-uringan.

Orang yang hobi mencela adalah orang yang tidak mau berkaca diri. Selain itu, apabila sedang mencela orang lain, sebenarnya sedang mencela dirinya sendiri.

Orang yang suka mencela persis seperti peribahasa yang mengatakan: gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak. Orang mudah melihat kekurangan orang lain, sebaliknya sulit melihat kekurangan dirinya sendiri.

Berdasarkan hasili penelitian Prevnet di Kanada; hampir semua orang (96%) pernah dicela ataupun disindir semasa hidupnya. Dan ketika seseorang dicela dengan hal yang sama berulang kali, ini dapat menyakitkan hati, tidak peduli seberapa sabar dirinya.

Menurut pandangan pengamat psikologi, Reza Indragiri, kasus bullying bukanlah hal sepele. “Bully di sekolah bukan hal sepele. Saking seriusnya, sampai ada yang melakukan bullycide, suicide yang diakibatkan oleh penderitaan tak tertahankan akibat menjadi korban bully,” terangnya

Apa yang harus kita lakukan terhadap bullying?

1. Beritahulah seseorang

Korban penindasan selalu berpikir untuk tidak memberitahu siapa-siapa mengenai masalahnya – itulah mengapa para pelaku jarang sekali tertangkap. Memberitahu seseorang adalah suatu langkah besar untuk menghentikan penindasan tersebut. Kamu mungkin tidak ingin memberitahu siapa-siapa – takut hanya akan memperburuk keadaan. Dikarenakan ini merupakan masalah yang besar dan sulit, sangatlah wajar jika merasa takut atau khawatir.

Tapi, sangatlah penting untuk memberitahu seseorang mengenai masalahmu; baik itu orangtua, guru, orang dewasa mana pun yang kamu percaya. Jika kamu merasa tidak mampu menceritakannya langsung, cobalah menuliskannya melalui WhatsApp atau email. Jika kamu ditindas di sekolah, beritahukanlah kepada gurumu dan meminta mereka melaporkannya kepada sekolah. Dan sangat penting untuk memberitahu kepada orangtuamu sedini mungkin (Sherri Gordon, 2019).

2. Tuliskan seberapa sering kamu ditindas

Tulis apa yang terjadi, kapan itu terjadi,  dimana dan siapa saja yang berada disana. Jika ada seseorang yang menyangkal tentang menindasmu, polisi akan mengalami kesulitan untuk mencari tahu kebenarannya. Dengan catatan yang kamu miliki, sudah ada bukti kuat yang dapat diberikan kepada polisi (Changing Faces Organizations, 2018)

3. Jangan menunjukkan rasa sakit atau takutmu kepada para penindas

Bullying sangat menyakitkan – dapat membuatmu marah, takut atau merasa terhina. Meskipun sulit, usahakanlah untuk tidak menunjukkan rasa tersebut kepada mereka – para penindas merasa puas jika mereka melihatmu ketakutan atau marah (Changing Faces Organizations, 2018).

Cobalah menggunakan beberapa kalimat berikut:

“Yeah… terserah.”

“Aku tidak peduli terhadap perkataanmu.”

Lalu berjalan pergi dengan tenang.

Namun jangan dipendam – pastikan kamu membicarakan hal ini dengan teman terdekat atau keluargamu dan ceritakanlah apa yang terjadi (Changing Faces Organizations, 2018).

4. Menjauhlah

Jauhkan dirimu dari mereka. Berjalan menjauhi mereka, terutama jika kau merasa takut atau khawatir… dan buatlah catatan mengenai apa yang terjadi. Jangan pernah marah atau melawan. Cobalah untuk tetap tenang dan tidak membiarkan amarah menguasaimu. Jangan tergoda untuk meneriaki mereka – kamu bisa saja terluka atau terjerumus dalam masalah yang lebih besar.

Yang paling penting adalah cobalah untuk tetap berada dalam posisi aman.

Dikarenakan para korban selalu takut ketika bertemu dengan para penindas, ada baiknya berada di lingkungan yang ramai terutama di lingkungan yang ada banyak sekali orang dewasa. 

References

Changing Faces Organizations. (2018). When teasing becomes bullying. Retrieved from Changing Faces Organizations: https://www.changingfaces.org.uk/adviceandsupport/self-help-guides/children-young-people/teasing-becomes-bullying

Gordon, S. (2019, January 25). How to Deal With Teasing and Subtle Forms of Bullying. Retrieved from verywell family: https://www.verywellfamily.com/how-to-deal-with-teasing-and-subtle-forms-of-bullying-4065070

Kay, M. A. (n.d.). The Difference Between Teasing and Bullying . Retrieved from Understood Organizations: https://www.understood.org/en/friends-feelings/common-challenges/bullying/difference-between-teasing-and-bullying

PREV Net. (2019). The Difference Between Teasing & Bullying. Retrieved from PREV Net: https://www.prevnet.ca/bullying/educators/the-difference-between-teasing-and-bullying

 

Leave a Reply