Close

6 Mei 2019

Bagaimana Digitalisasi Mempengaruhi Isolasi Sosial?

Artikel: Eleonora Pradnya dan Wening Sukmawati Editor: Gabriella Santoso (founder GoyaGoya)                                   Design: Winda Amelinda

Dalam masa di mana teknologi berkembang dengan sangat pesat, manusia adalah aktor kreatif yang mampu menciptakan berbagai hal—salah satunya adalah ruang interaksi dunia maya (Putri et al., 2016). Dilansir dari Kompas.com (2018), berdasarkan survei Global Web Index tahun 2016, rata-rata orang menghabiskan 2 jam setiap harinya untuk membuka media sosial. Hasil survei dari Retrevo mengungkapkan bahwa 11% dari peserta penelitian tidak mampu menahan diri untuk tidak membuka media sosial setiap 2 jam.

Penggunaan media sosial yang berlebihan sering dikaitkan dengan isolasi sosial, sehingga fungsi ‘sosial’-nya dipertanyakan. Dari manakah situasi itu bermula?

Dalam artikel sebelumnya, dijelaskan bahwa isolasi sosial adalah salah satu pemicu terbentuknya perasaan kesepian. Kata kesepian sendiri diartikan sebagai absennya hubungan yang terjalin antara individu, baik dengan keluarga atau teman. Lemahnya hubungan sosial menandakan bahwa seseorang terisolir secara sosial. Dalam era modern ini, menjamurnya penggunaan media sosial bisa menggantikan koneksi sosial kehidupan nyata, mengakibatkan semakin banyaknya orang yang kesepian.

Apakah media sosial itu sendiri? Andreas Kaplan dan Michael Haenlein dalam Putri et al. (2016) mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis Internet yang dibangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content. Singkatnya, media sosial adalah media online di mana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi (blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual).

Sebenarnya, media sosial memiliki banyak kelebihan. Dalam artikel Is Instagram Toxic oleh Wening, kamu bisa membaca apa saja kelebihan dan manfaat dari media sosial, terutama Instagram. Bagi mereka yang mengalami social awkwardness dan kesepian, media sosial bisa menjadi salah satu ‘penyelamat’. Berdasarkan Kim et al. (2009), media sosial atau dunia maya menyediakan interaksi sosial dengan tingkat presentasi diri yang lebih rendah dibandingkan dunia nyata atau face to face. Hal ini tentu saja memudahkan kamu yang merasa sulit membangun hubungan sosial tanpa merasa malu dan gugup.

Orang-orang yang merasa kesepian bisa juga menggunakan media sosial secara intensif untuk memperoleh dukungan emosional dari orang-orang yang mereka temui di dunia maya (Morahan & Schumacher, 2003)

Menurut studi lain dari Shotten (1991) dan Turkle (1984), orang-orang kesepian lari ke media sosial untuk menghilangkan kesepian yang mereka rasakan. Di samping itu, mereka ingin melepaskan diri dari tekanan serta ketidaknyamanan hidup serta membangun identitas sosial dengan cara yang baru (Reingold, 1993).

Namun, walaupun media sosial sendiri bertujuan untuk memudahkan sosialisasi, mengapa bisa menyebabkan isolasi sosial pada akhirnya?

Fenomena ini dapat dilihat dari berbagai segi. Salah satunya adalah dari absennya kegiatan sosial di dunia nyata (Kim et al., 2009). Tidak dapat dipungkiri bahwa kita sulit menentukan titik awal di mana isolasi sosial terjadi dalam proses penggunaan media sosial. Hal ini seperti sebuah lingkaran tanpa ujung, sebuah siklus, antara perasaan terisolasi dari lingkungan sosial dan ketergantungan terhadap media sosial yang memperparah rasa terisolasi tersebut.

Pada penelitian yang dilakukan Moody tahun 2001, ditemukan bahwa hubungan yang dibentuk secara face to face di dunia nyata memiliki pengaruh yang lebih kuat dibandingkan secara virtual. Ketika tingkat hubungan sosial secara virtual seseorang lebih tinggi daripada face to face, maka tingkat kesepiannya akan lebih tinggi pula. Beberapa survei menunjukkan bahwa interaksi virtual atau komunikasi melalui media sosial dapat menjadi ketergantungan jika dilakukan dalam jangka panjang, yang akan membuat pengguna media sosial menjadi semakin kesepian (Shojaee et al, 2008).

Media sosial yang efektif untuk memperluas komunikasi dan memberikan dukungan emosional ternyata bisa menyebabkan beberapa permasalahan jika digunakan secara berlebihan. Contohnya adalah nilai yang menurun, pekerjaan terhambat, depresi, stress, bahkan bisa sampai ke kehilangan pekerjaan karena melalaikan tugas akibat terlalu fokus pada media sosial (Putri et al., 2016; Kim et al., 2009)

So, menggunakan media sosial secara berlebih ternyata bukan cara bijak dan ampuh untuk membuat seseorang lepas dari perasaan kesepian. Sesuatu yang berlebih biasanya membawa dampak buruk. Maka dari itu, kita perlu menyeimbangkan kehidupan dunia nyata dengan dunia maya.

Bagaimana caranya?

Kamu bisa mulai dengan mengalihkan perhatian sebentar dari laptop dan handphone-mu. Cobalah untuk senyum dan sapa orang di dekatmu, setelahnya bisa dilanjutkan dengan berbincang ringan. Kamu juga bisa membatasi penggunaan media sosial dengan bijak, menyesuaikan kapasitas dan waktu yang kamu miliki. Terakhir, kamu juga bisa ikut keseruan #NoPhoneChallenge dari ISmile4You lho.

Namun, jika kamu masih merasa kesepian dan butuh teman untuk bicara, ISmile4You bisa jadi salah satu alternatif jawabannya. Dengan tangan terbuka, kami selalu menyambutmu, membantumu untuk mampu bergandeng tangan dengan orang di sekelilingmu dan berusaha membantumu untuk keluar dari lingkungan yang terisolasi serta perasaan kesepian. Semangat guys, kamu tidak sendiri, tetaplah tersenyum!

Senyummu akan membuat dunia juga tersenyum padamu.

Referensi

Kompas.com. 2018. Batasan Wajar dalam Menggunakan Media Sosial dalam Sehari. https://lifestyle.kompas.com/read/2018/04/04/053800120/batasan-wajar-menggunakan-media-sosial-dalam-sehari

Putri, W.S.R. and Nurwati, N., 2016. Pengaruh media sosial terhadap perilaku remaja. Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat3(1).

Kim, J., LaRose, R. and Peng, W., 2009. Loneliness as the cause and the effect of problematic Internet use: The relationship between Internet use and psychological well-being. CyberPsychology & Behavior12(4), pp.451-455.

Morahan-Martin, J. and Schumacher, P., 2003. Loneliness and social uses of the Internet. Computers in Human Behavior19(6), pp.659-671.

Shotten, M. (1991). The costs and benefits of computer addiction. Behavior and information Technology, 10, 219-230. http://dx.doi.org/10.1080/01449299108924284

Turkle, S. (1984). The second self-computer and the human spirit. New York: Simon & Schuster.

Rheingold, H. (1993). The Virtual Community: Homesteading on the Electronic Frontier. Reading, MA: Addison-Wesley.

Moody, E.J., 2001. Internet use and its relationship to loneliness. CyberPsychology & Behavior4(3), pp.393-401.

Shojaee M. S. Psychology and psychopathology of the internet. Journal of psychology Internet with Religious. 2008;1

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *