Close

15 Juli 2019

Mengapa Aku Merasa Insecure? Bagaimana Cara Mengatasinya?

Artikel:  Ayustya Damargalih & Nabila Isnandini
Editor:  Gabriella Santoso
Design:  Meshal & Winda Amelinda

Seringkah kalian meragukan diri sendiri? Atau mungkin merasa bahwa kalian meragukan kemampuan yang kalian miliki padahal kalian merasa bahwa kalian memiliki track record baik di sekolah, kuliah atau pekerjaan yang sedang kalian jalani? Atau mungkin mengurungkan niat kalian untuk bersosialisasi dengan orang-orang baru karena kalian merasa bahwa diri kalian adalah pribadi yang tidak menarik atau bahkan tidak pantas untuk bersosialisasi dengan individu-individu lain?

Menurut Greenberg (2015), sebagai manusia kita pasti akan merasakan yang namanya perasaan insecure dan perasaan insecure dalam takaran sedikit termasuk baik untuk individu, contohnya adalah dapat membantu perkembangan diri seseorang dengan memandang bahwa kita mampu mencapai goal yang jauh lebih tinggi dari apa yang kita bayangkan sebelumnya (Winter, 2016). Namun tidak sedikit pula individu yang mengalaminya setiap saat sehingga mengganggu kesehariannya. Hal ini bisa dipengaruhi berbagai macam hal, mulai dari masa kecil mereka, trauma terdahulu hingga kritik dari orang lain. Perasaan insecure berkepanjangan dapat bagi berdampak buruk bagi kesehatan, mulai dari fisik (seperti kelelahan yang berkepanjangan) bahkan mental (depresi).

Lalu, perasaan insecure itu perasaan yang apa sih?

Penelitian Vornanen,Törrönen, dan Niemelä (2009) berusaha untuk menggali bagaimana 922 remaja di Finlandia mendefinisikan perasaan insecurity. Penelitian tersebut kemudian membagi 16 jawaban yang diberikan remaja-remaja itu menjadi 3 bagian definisi besar perasaan insecurity yang terbagi menjadi berikut:

  1. Inner circle yaitu perasaan insecurity yang berhubungan dengan diri individu (seperti rendahnya rasa percaya diri, perasaan takut dan anxiety).
  2. Social circle yang berhubungan dengan interaksi sosial (seperti bullying, perasaan kesepian dan tidak mendapatkan dukungan).
  3. Outer circle yaitu yang berhubungan dengan realita kehidupan (seperti ketidakpastian masa depan, ketakutan akan kejahatan)

Konsep insecurity sudah ada di teori yang dikemukakan oleh Maslow (1943, dalam Afolabi dan Balugun, 2017) sebagai salah satu tahap dalam teori Basic Human Needs yaitu need for security. Apabila tahap tersebut tidak dipenuhi maka individu dapat merasakan perasaan ketakutan, anxious, bahkan merasa kurang puas dengan kehidupannya.

Terdapat 3 hal yang paling banyak menyebabkan insecurity, yaitu kegagalan dan penolakan, kurang percaya diri karena kecemasan sosial, dan perfeksionisme (Greenberg, 2015)

  1. Insecurity karena Kegagalan atau Penolakan

Menurut Dr. Lista Firestone, Insecurity terjadi karena adanya pengalaman menyakitkan di kehidupan seseorang, dari pengalaman tersebut kemudian akan membentuk pola pemikiran yang destruktif kepada diri sendiri (PsychAlive, 2015). Kegagalan dan penolakan merupakan salah satu pengalaman yang menyakitkan di kehidupan seseorang, sebagaimana yang dikatakan oleh Hwang (2012) bahwa situasi sukses dan kegagalan merupakan representasi dari tujuan hidup yang ingin dicapai. Selanjutnya ketika harapan tersebut tidak tercapai maka akan menjadi sesuatu yang menimbulkan gejolak emosi didalam diri remaja dan menjadi suatu hal yang menyakitkan. Saat mengalami kegagalan dan penolakan seseorang akan berpikir negatif mengenai dirinya dan kehidupannya. Hal tersebut dikemukakan oleh Guy Winch dalam bukunya yang berjudul Emotional First Aid: Healing Rejection, Guilt, Failure and Other Everyday Hurts bahwa saat mengalami penolakan seseorang melihat dirinya dan orang lain secara negatif. Pemikiran negatif ini lah yang akan memicu insecurity, seperti kurang percaya diri dan timbul pemikiran negatif semacam “kenapa aku tidak bisa melakukannya”, ” begini saja aku tidak becus.” Insecurity tersebut akan berefek kepada kehidupan berikutnya, bahkan seseorang enggan mencoba suatu hal karena takut mengalami kegagalan yang sama.

Oleh karena itu, insecurity yang disebabkan oleh kegagalan harus diatasi. Tips berikut ini dapat membantumu untuk mengatasi insecurity:

  • Beri dirimu waktu untuk fase penyembuhan dan beradaptasi dengan suasana yang baru.
  • Ambil waktu bersama dengan keluarga dan teman-teman mu untuk mendapat perhatian dan kenyamanan.
  • Tekun dan terus bergerak ke arah tujuanmu, serta cobalag strategi baru.
  1. Kurang percaya diri karena social anxiety

Insecurity adalah rasa kurang aman (dan nyaman) akibat kurangnya percaya diri. Rasa kurang percaya diri dalam situasi sosial, seperti pesta, pertemuan keluarga, wawancara, dan kencan banyak dialami oleh seseorang. Perasaan kurang percaya diri tersebut umumnya disebabkan karena adanya kecemasan sosial. Hal tersebut karena seseorang akan merasa takut untuk dinilai perihal dirinya oleh orang lain. Schulze (2013 dalam Rachmawati, 2015) menyatakan rasa takut yang intens dan evaluasi yang negatif yang berlebihan ketika dihadapkan pada situasi sosial merupakan ciri dari kecemasan sosial. Jika mengalaminya, maka seseorang takut menghadapi situasi sosial dan akan menarik diri, serta menghindar dari berbagai situasi sosial tersebut yang nantinya akan menimbulkan efek yang lebih buruk. Tillfors (2012 dalam Rachmawati, 2015: 32) menyatakan bahwa berperilaku menghindar baik secara terang-terangan maupun secara halus yang berdampak pada ketakutan terus-menerus, intens, kronis yang berlebihan dapat mengakibatkan seseorang hanya memiliki jaringan sosial yang lebih kecil, berkurangnya dukungan sosial, rendahnya kualitas hidup yang jangka panjang dapat menimbulkan isolasi sosial dan berpotensi pada bunuh diri.

Insecurity karena kecemasan sosial akan sangat mempengaruhi seseorang dan menimbulkan efek lebih lanjut bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Berikut ini merupakan tips untuk mengatasinya

  • Bicaralah pada inner critic dirimu sendiri, katakan dan ingat bahwa kamu menarik dan dapat menjadi teman serta pasangan yang baik.
  • Menghindari situasi sosial hanya akan membuat keadaan semakin buruk. Berdamailah dengan dirimu dan cobalah untuk mengatasi kecemasanmu. Mencoba berinteraksi dengan seseorang akan mengurangi kecemasan sosial tersebut. Sekali, dua kali maka selanjutnya kamu akan terbiasa.
  • Bicarakan apapun dengan teman serta keluargamu, baik itu tujuan hidupmu, film, musik, dll.
  1. Insecurity akibat perfeksionisme

Semua orang mempunyai standar yang tinggi untuk suatu hal dan menginginkan semuanya berjalan dengan sempurna. Tidak jarang untuk memperolehnya seseorang melakukannya dengan usaha yang sangat keras. Namun, terkadang apa yang direncanakan tidak sesuai dengan apa yang terjadi atau tidak sesempurna apa yang diinginkan. Hal tersebut akan membuat seseorang merasa kecewa dan mulai menyalahkan diri sendiri. Jika itu terjadi maka akan muncul pemikiran tidak layak terhadap diri sendiri dan timbul insecurity. Insecurity tersebut akan menyebabkan perasaan khawatir yang terus-menerus  berkaitan dengan perasaan tidak cukup baik dengan segala hal. Perasaan tersebut nantinya akan menyebabkan efek lainnya, seperti depresi, gangguan makan, kecemasan.

Efek yang cukup berbahaya tersebut perlu diatasi. Berikut ini terdapat tips untuk mengatasi insecurity karena perfeksionisme

  • Cobalah untuk mengevaluasi dirimu berdasarkan usaha yang kamu lakukan, bukan pada hasil yang kamu dapat.
  • Cintai dirimu sendiri bahkan saat sesuatu tidak berjalan baik atau tidak berjalan sesuai yang kamu inginkan.

Referensi

Greenberg, M. (2015). The 3 Most Common Causes of Insecurity and How to Beat Them. Retrieved May 17, 2019, from www.pshycologicaltoday.com/us/blog/the-mindful-self-express/201512/the-3-most-common-causes-insecurity-and-how-to-beat-them%3famp

Hwang, K.K. (2012). Foundation of Chinese Pshycology. Taiwan: Springer

PscyhAlive. (2015). How to Overcome Insecurity: Why Am I So Insecure? Retrieved March 3, 2019, from https://www.psychalive.org/how-to-overcome-insecurity/

Rachmawaty, F. (2015). Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecemasan Sosial pada Remaja. Jurnal Psikologi Tabularasa, 10(1), 31-42. Retrieved May 17, 2019, from https://media.neliti.com/media/publications/127773-ID-peran-pola-asuh-orang-tua-terhadap-kecem.pdf&ved=2ahUKEwjDydnr66TiAhUL2o8KHfV0CW0QFjACegQIBBAB&usg=AOvVaw0-n-AkPnk8JHIP4BCAZNTR

Vornanen, R., Törrönen, M., & Niemelä, P. (2009). Insecurity of young people. YOUNG, 17(4), 399–419. doi:10.1177/110330880901700404 https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/110330880901700404

Winter, S. (2017, Februari 25). Why a Little Insecurity Is Good for You. Retreived 19th May 2019 from https://www.huffpost.com/entry/why-a-little-insecurity-i_b_9318066?guccounter=1&guce_referrer=aHR0cHM6Ly93d3cuZ29vZ2xlLmNvbS8&guce_referrer_sig=AQAAAGdWv_mAHSBtXliMfMlPI3tbpwTLNswDuHPLZ3hJhJm2Oi2YaAWU390gn-X_yvdqpN1zUD_lsdPW5dISGwL5xrwtYaT72Mxf28NGtesUmPxLvo4HCN8MGQeNDZIDAr0Kl4ckWkVNZHzRbzpDNQdHqTsGu3WKD_LDmPGLKdHjdX-m

 

2 Comments on “Mengapa Aku Merasa Insecure? Bagaimana Cara Mengatasinya?

Fitrian
16 Juli 2019 at 20:28

Terima kasih atas penjelasannya kak, sangat bermanfaat sekali

Balas
Fika Dian
6 Agustus 2019 at 08:34

Sama-sama 🙂 senang bermanfaat bagimu

Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *