Close

6 Agustus 2019

How To Manage Your Work-Related Stress

Artikel:  Yunifa Ririarti
Editor:  Gabriella Santoso
Design:  Putri Ridzki

Apakah kamu pernah merasa suntuk dengan pekerjaanmu? Atau, kamu merasa pekerjaan kamu bertambah terus-menerus, tiada henti, sampai kamu kewalahan? Mungkin juga hasil kerja rekanmu jauh sekali dari ekspektasimu, sehingga kamu menyampaikan keluhanmu secara kasar.

Jika kamu pernah ada dalam semua situasi di atas, artinya kamu sedang stress dengan pekerjaanmu. Bahkan, karena stress di pekerjaanmu, kamu jadi tidak bisa mengendalikan emosi saat berinteraksi di luar lingkungan kerja. Sebenarnya, apa sih stress kerja itu? Dampak apa yang akan terjadi jika stress itu kamu anggap hal sepele? Lalu, bagaimana cara menghindari dan mengendalikannya? Semua akan dibahas di artikel ini.

Stress adalah bentuk emosional negatif dan kerap dikaitkan dengan respon terhadap peristiwa yang mengancam. Respon tersebut diperoleh dari proses adaptasi. Stress kerja dapat didefinisikan sebagai respon seseorang yang disebabkan karena tuntutan pekerjaan dan tekanan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki, sehingga menantang kemampuan untuk mengatasinya.

Tekanan pekerjaan tidak dapat dihindarkan. Efeknya, seseorang bisa: waspada terhadap “bahaya” di lingkungan kerja, termotivasi, atau merasa mendapat pelajaran baru ketika bekerja. Semua tekanan yang dirasakan bisa menjadi hal positif, tergantung dari ketersediaan sumber daya di lingkungan kerja dan karakteristik individu pekerja itu sendiri. Namun, ketika tekanan menjadi berlebih, tekanan ini akan menjadi sumber stress kerja bagi pekerja. Stress kerja ini dapat merusak kesehatan, baik secara fisiologis maupun psikologis.

Menurut The Health and Safety Executive (HSE), ada 6 kategori stressor yang berpotensial meningkatkan stress kerja. Kategori ini dibuat berdasarkan 7 kategori stressor oleh Palmer yang mendeskripsikan bagaimana budaya organisasi mempengaruhi stress kerja. Tetapi, budaya organisasi tidak teridentifikasi sebagai stressor yang jelas oleh HSE.

Berikut penjelasan 6 kategori stressor  menurut HSE:

  1. Demands (Tuntutan)

Tuntutan termasuk faktor instrinsik terhadap pekerjaan seperti: kondisi linkungan kerja, shift kerja, beban kerja, serta long or unsociable hours.

  1. Control

Seberapa besar pengaruh dan otonomi seseorang terhadap alur tugas yang dia kerjakan? Semakin rendah tingkat kontrol pekerjaannya, semakin tinggi resiko stress yang ia alami.

  1. Relationship (Hubungan)

Hubungan dengan atasan, anak buah, dan rekan-rekan kerja mempunyai peran penting dalam tingkat stress pada seorang individu. Tingkat kepercayaan dan dukungan yang rendah berpotensi meningkatkan stress. Selain itu, konflik, kekerasan, bahkan bullying yang terjadi di dunia pekerjaan bisa menambah stress kerja.

  1. Change (Perubahan)

Cara perubahan kerja diperkenalkan, diatur, dan dikomunikasikan ke pekerja dapat mempengaruhi tingkat stress. Perubahan yang tidak penting atau perubahan yang diimplementasikan dengan sangat buruk akan menghasilkan tekanan berlebih pada pekerja.

  1. Role (Peran)

Stress akan meningkat jika seseorang tidak paham dengan peran dan tanggung jawabnya di lingkungan kerja. Hal ini terjadi karena adanya konflik antara ketidak-jelasan mengenai posisi dan rasa tanggung jawab atas pekerjaannya.

  1. Support (Dukungan)

Jumlah dukungan dan pelatihan kerja yang tersedia dengan baik, serta dukungan dan motivasi dari rekan kerja / organisasi lingkungan kerja akan mengurangi beban mental yang dialami selama bekerja.

Penyebab-penyebab stress kerja juga disebut sebagai stress-related hazards. Stress-related hazards terdiri dari 9 kategori dengan indikatornya masing-masing, yaitu:

  1. Isi pekerjaan
  2. tugas yang membosankan atau kurangnya tantangan
  3. kurang variasi pekerjaan
  4. tugas yang tidak menyenangkan
  5. Beban kerja dan lingkungan kerja
  6. Bekerja berlebihan atau tidak banyak yang dapat dilakukan pada tugasnya
  7. Bekerja di bawah tekanan
  8. Jam kerja
  9. Jadwal kerja yang ketat dan tidak fleksibel
  10. Long and unsocial hours
  11. Jam kerja yang tidak dapat diprediksi
  12. Partisipasi dan kontrol terhadap tugas
  13. Kurangnya partisipasi dalam pengambilan keputusan
  14. Kurangnya kendali tugas seperti metode kerja yang berlebihan atau jam kerja berlebihan
  15. Career, Development, Status, and Pay
  16. Job insecurity
  17. Kurangnya prospek untuk promosi posisi pekerjaan
  18. Promosi yang berlebihan atau kurangnya promosi di lingkungan kerja
  19. Ketidak-jelasan dan ketidak-adilan pada sistem evaluasi kinerja
  20. Mempunyai skill yang tidak sesuai dengan pekerjaan
  21. Peran dalam tempat kerja
  22. Ketidak-jelasan peran
  23. Konflik antar peran pada pekerjaan yang sama
  24. Tanggung jawab pekerjaan pada orang-orang yang berkaitan dengan organisasi lingkungan kerja
  25. Terus-menerus berhadapan dengan masalah orang lain
  26. Hubungan antar manusia
  27. Supervisor yang tidak pengertian, tidak memadai, dan tidak mendukung
  28. Hubungan dengan rekan kerja yang buruk
  29. Kekerasan dan pelecahan di lingkungan kerja
  30. Pekerjaan terisolasi atau sendirian
  31. Tidak ada prosedur untuk penyampaian keluhan / masalah kerja
  32. Budaya organisasi kerja
  33. Buruknya komunikasi
  34. Buruknya kepemimpinan
  35. Kurangnya kejelasan tentang tujuan dan struktur organisasi
  36. Home-work interface
  37. Konflik antara tuntutan pekerjaan dan tuntutan di rumah
  38. Kurangnya dukungan terhadap masalah domestik dari lingkungan kerja
  39. Kurangnya dukungan terhadap masalah pekerjaan dari lingkungan rumah

Stress kerja dapat berdampak di berbagai aspek: fisik, emosional, intelektual, bahkan kebiasaan. Secara fisik, perubahan yang terjadi pada individu dapat dilihat dari: waktu tidur yang terganggu, sakit kepala, gangguan pencernaan, bahkan sampai tekanan darah tinggi atau penyakit jantung. Secara emosional, stress kerja dapat menyebabkan seseorang menjadi depresi, mudah cemas, dan mudah marah. Secara intelektual, stress kerja dapat menyebabkan tingkat konsentrasi menjadi rendah, motivasi rendah, sulit berpikir, sulit mengingat/menghafal, bahkan sulit untuk mengambil keputusan. Perubahan perilaku yang disebabkan stress kerja dapat bermanifestasi dalam penggunaan alkohol yang berlebihan, penurunan libido, munculnya perilaku yang tidak pantas, memisahkan diri dengan kehidupan sosial, serta menjadi tidak teliti/cermat.

Pencegahan stress kerja dapat dilakukan dengan pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer terdiri dari ergonomi, desain kerja dan lingkungannya, serta pengembangan manajemen dan organisasi. Pencegahan sekunder stress kerja bisa dilakukan dengan memberikan pelatihan kerja. Sedangkan pencegahan tersier bisa dilakukan dengan mengembangkan sistem manajemen yang lebih sensitif dan responsif, serta meningkatkan kesehatan di lingkungan kerja.

Lalu, bagaimanakah cara mengendalikan stress kerja pada diri sendiri? Berikut cara-cara yang dapat kamu lakukan untuk mengurangi stress saat bekerja:

  1. Membatasi waktu kerja tidak lebih dari 12 jam per hari.
  2. Melakukan/mengusulkan rotasi kerja dari tugas dengan tingkat stress yang tinggi ke tugas dengan tingkat stress yang rendah.
  3. Merotasi pekerjaan lapangan menjadi tugas rutin sepraktis mungkin.
  4. Memanfaatkan program bimbingan konseling yang disediakan oleh perusahaan untuk menceritakan masalah pekerjaanmu.
  5. Minum air minum yang cukup dan makan makanan/snack sehat seperti buah segar, roti gandum, atau makanan berenergi lainnya.
  6. Beristirahatlah dari pekerjaanmu selama yang kamu butuhkan agar bisa bekerja kembali secara optimal.
  7. Berbincanglah dengan orang terdekat yang kamu percaya mengenai apa yang telah kamu lakukan selama seharian sampai apa yang akan kamu hadapi nanti.
  8. Tetap jaga komunikasi dengan keluarga dan teman-temanmu. Berkomunikasi dengan keluarga dapat menjadi waktu istirahat dari pekerjaanmu yang menumpuk.
  9. Berpartisipasi dalam kegiatan ibadah atau ritual sesuai kepercayaanmu. Hal ini dilakukan sebagai cara menyampaikan perasaanmu yang tidak bisa kamu ungkapkan ke siapa pun.
  10. Carilah teman dengan kondisi serupa. Kamu dan teman dengan kondisi yang mirip akan lebih peka jika salah satu dari kalian mulai mengalami stress, sehingga kalian dapat saling memonitor keadaan dan mengingatkan istirahat untuk menghindari stressor masing-masing.

Referensi:

Leka, S., Griffiths, A., & Cox, T. 2004. Work Organization & Stress: Systematic Problem Approaches For Employers, Managers And Trade Union Representatives. Geneva, Switzerland: World Health Organization. Diakses dari https://www.who.int/occupational_health/publications/en/oehstress.pdf

Sahoo, Smruti R. 2016. Management of Stress at Workplace. Global Journal of Management and Business Research: A Administration and Management, 16(6). Diakses dari https://globaljournals.org/GJMBR_Volume16/1-Management-of-Stress-at-Workplace.pdf.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *