Close

6 Agustus 2019

Toxic Relationship Juga Terjadi di Dalam Keluarga

Artikel:  Pristia Ardra Fedora, Hanan Salsabila, Widya
Editor:  Gabriella Santoso
Design:  Savira Oktari

Keluarga adalah sistem terdekat dalam kehidupan sehari-hari kita. Apa yang terjadi dalam kehidupan kita akan memengaruhi keluarga kita, dan sebaliknya.

Keluarga yang sehat tentu didambakan oleh semua orang. Menurut Akademi Anak Amerika, beberapa karakteristik keluarga sehat adalah: dukungan; kasih sayang untuk semua anggota keluarga yang lain; menyediakan keamanan dan perasaan memiliki; komunikasi yang terbuka; serta memastikan setiap anggota keluarga merasa penting, dihargai, dihormati dan percaya diri. Tetapi, dalam keluarga toxic, hal-hal tersebut tidak ada.

Keadaan ini menciptakan lingkungan yang tidak aman bagi anak, baik itu dalam bentuk kekerasan emosional, kekerasan seksual, kekerasan fisik, atau pengabaian. Menurut Indrawati et al (2014), keluarga toxic memberikan efek jangka panjang bagi anak, terutama pada sisi psikologis yang dapat mengakibatkan trauma. Terlebih lagi, trauma ini justru berpotensi kepada penerapan pola hidup toxic tersebut kepada keluarga yang akan anak ini bangun di masa mendatang.

Menurut Buck & Forward (2002), di dalam keluarga toxic terdapat kepercayaan dan peraturan tidak tertulis yang hampir semuanya lebih terpusat kepada perasaan dari orang tua toxic. Berikut adalah contohnya:

  • Anak harus menghormati orang tua, apa pun yang terjadi
  • Ada dua cara dalam melakukan sesuatu – cara kami atau cara yang salah
  • Anak harus dapat dilihat tapi tidak boleh didengar
  • Anak salah apabila marah kepada orang tuanya

Contoh peraturan tidak tertulis dari keluarga toxic adalah:

  • Jangan sukses melebihi ayah
  • Jangan lebih bahagia dari ibu
  • Jangan mengikuti jalan anak
  • Jangan pernah berhenti membutuhkan sang orang tua

Apabila anak-anak tidak mengikuti aturan dan kepercayaan toxic ini, orang tua toxic biasanya bereaksi dengan memberikan hukuman, atau menahan cinta mereka. Akhirnya, anak akan tetap mengikuti peraturan keluarga toxic hanya karena mereka tidak mau dihukum. Atau, lebih lagi, anak-anak tidak mau menjadi penghianat keluarga karena tidak patuh, tidak peduli seburuk apa pun posisi anak.

Hal ini menyebabkan trauma yang diakibatkan keluarga seperti:

  1. Tidak percaya diri (low self-esteem) karena sering diremehkan oleh keluarga terdekat sendiri, sering mendengarkan ucapan-ucapan yang merendahkan, tidak pernah diapresiasi, dll.
  2. Takut menjalin hubungan dengan lawan jenis karena melihat orang tua yang selingkuh.
  3. Tidak mudah percaya kepada orang (selalu curiga) karena dari kecil selalu dicurigai oleh keluarga atau sering dibohongi (misal, dijanjikan untuk dibelikan sesuatu tapi tidak pernah ditepati).
  1. Selalu menyalahkan diri sendiri dan merasa diri sendiri bertanggung-jawab atas semua kekacauan yang terjadi karena orang tua/saudara selalu menyalahkan anak, bahkan untuk masalah yang terkecil sekalipun.
  2. Merasa semua orang akan meninggalkannya karena selalu ditinggalkan atau dititipkan ke keluarga lain atau ART untuk diasuh.

Toxic parenting menurut Forward dan Buck (2002) terbagi menjadi enam jenis:

  1. The Inadequate Parents: Orang tua yang hanya berfokus pada permasalahannya sendiri dan mengubah anaknya menjadi orang dewasa yang bertugas mengurusi mereka.
  2. The Controllers: Orang tua yang menggunakan rasa bersalah, manipulasi, hingga bantuan yang berlebihan untuk mengendalikan kehidupan anak mereka.
  3. The Alcoholics: Orang tua yang terjerumus dalam ketidak-pedulian dan perasaan yang berubah-ubah, kecanduan mereka terhadap alkohol membuat mereka hanya memiliki sedikit tenaga untuk mengasuh anak-anaknya.
  4. The Verbal Abusers: Orang tua yang senang mengeluarkan kata-kata kasar. Mereka mengacaukan perasaan anak mereka dengan terus-menerus membuat anak merasa rendah dan tidak percaya diri.
  5. The Physical Abusers: Orang tua yang tidak dapat mengontrol emosi dan kerap menyalahkan anak atas kekerasan orang tua yang tidak terkendali.
  6. The Sexual Abusers: Orang tua yang melecehkan anaknya atau diam-diam menggoda secara seksual.

Jika orang tuamu ternyata melakukan salah satu jenis toxic parenting di atas, mungkin kamu tumbuh dengan perasaan-perasaan buruk akan dirimu sendiri: perasaan bahwa kamu tidak dapat mempercayai siapapun, kamu tidak layak untuk disayangi, hingga perasaan tidak berharga.

Tentunya kamu pun bertanya-tanya, mengapa orang tuamu melakukan hal tersebut kepadamu?

Menurut Forward dan Buck (2002) toxic parenting biasanya terjadi sebagai sebuah cycle atau mata rantai yang terus berulang. Orang tua yang melakukan toxic parenting pun bisa jadi sebenarnya merupakan korban dari toxic parenting yang dilakukan oleh orang tua mereka. Pengalaman-pengalaman tersebut akhirnya terus menumpuk dan mengubah cara berpikir mereka, sehingga tanpa sadar mewariskan hal tersebut di kemudian hari.

Ada beberapa cara bagaimana keluarga toxic diwariskan yaitu:

Pemaksaan yang berulang-ulang

Keadaan yang familiar kadangkala lebih dipilih orang, bahkan walaupun keadannya buruk. Rasa familiar itu yang membuat mereka setidaknya mempunyai kontrol dengan apa yang mereka lakukan dan meminimalisasi resiko yang akan ditanggung. Setiap kali hal buruk terjadi, mereka melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa.

Rage outlets

Dalam keluarga toxic, terdapat banyak emosi yang tidak dapat dikeluarkan sehingga hal tersebut terus menumpuk. Akhirnya, pada saat dewasa hal-hal tersebut meluap hingga menyebabkan timbulnya berbagai macam kekerasan, kriminalitas, manipulasi, depresi, dan penyakit.

The abused become the abuser

Korban abuse kadang merasa bahwa melakukan hal yang sama adalah bentuk perlindungan diri, sehingga pada akhirnya mereka jadi melakukan abuse kepada orang lain.

Menurut Buck & Forward (2002), masalah utama dari anak yang telah terekspos kepada orang tua toxic biasanya adalah keinginan kuat untuk mendapatkan penerimaan dari orang tuanya, sehingga tidak pernah memikirkan apa yang diinginkan oleh diri mereka sendiri. Beberapa dampak dari hal ini: anak lebih mengutamakan keperluan dan keinginan orang tua bahkan ketika mereka tidak tinggal serumah, anak memberontak, atau mengasingkan diri dari orang tua.

Diperlukan kesadaran dari korban orang tua toxic untuk menyadari beberapa hal:

  • Diri mereka sendiri dapat berubah tanpa harus mengganti orang tua.
  • Kesehatan mental mereka tidak harus tergantung dengan orang tua.
  • Mereka dapat mengalahkan trauma masa kecil, bahkan ketika orang tua bersikap sama.
  • Mereka tidak harus menerima perlakuan orang tua mereka untuk membuat mereka lebih baik.

Dengan menyadari hal-hal tersebut, mereka tidak akan berharap orang tua bisa berubah. Yang dapat membuat mereka melepaskan diri dari trauma akibat orang tua toxic adalah kesadaran untuk menjadi orang yang bertanggung jawab atas diri sendiri, dan menjadi orang yang lebih bebas.

Kebiasaan lama tentu saja tidak akan hilang dalam satu hari. Perjalanan untuk mencapai kesadaran seperti di atas dapat dimulai dengan:

  • Menyadari perasaan, kepercayaan, dan sikap kepada orang tua yang sebenarnya.
  • Tidak menggunakan permintaan maaf untuk menyangkal bahwa masalah terjadi.
  • Memberikan penjelasan pada diri bahwa sikap orang tua yang tidak baik bukanlah tanggung jawab mereka.
  • Melatih mengenal konsep diri dan berlatih untuk mengutarakan apa yang mereka inginkan/rasakan (terutama amarah).
  • Lebih aktif berkomunikasi, termasuk konfrontasi dengan orang tua jika diperlukan.
  • Memotong siklus toxic dan memastikan hal tersebut tidak diwariskan kepada anak mereka.

Menurut Sharon Martin dalam Livewell (2018), ada beberapa tips yang dapat dilakukan apabila seseorang memiliki orang tua toxic:

  1. Berhenti berusaha untuk selalu menyenangkan orang tua.

Biasanya, anak-anak ingin mendapatkan penerimaan dari orang tua. Masalahnya, orang tua toxic hampir tidak bisa dibuat senang. Jadi, sangat penting untuk anak agar bisa menjalani hidup sendiri, menentukan pilihan sendiri, dan menyenangkan diri sendiri. Hidup bergantung kepada prinsip dan tujuan orang lain adalah hal yang tidak menyenangkan. Saat kita mengejar penerimaan dari orang lain (termasuk orang tua) berarti kita membiarkan pihak lain mendikte harga diri, kepintaran, kesuksesan, keberhasilan dalam karir dan keluarga kita, dll.

  1. Tetapkan dan pastikan batasan.

Batasan menciptakan jarak emosi dan fisik antara anak dan orang tua. Orang tua toxic biasanya ingin mengontrol dan tidak menghormati batasan orang lain. Membuat batasan adalah hal penting untuk hubungan yang sehat.

  1. Tidak mencoba mengubah orang tua.

Perubahan orang lain adalah hal yang tidak bisa kita kontrol. Waktu berharga kita sebaiknya difokuskan untuk hal yang bisa dikontrol, misalnya cara kita merespon orang tua, cara membuat keputusan, dan cara bersikap.

  1. Berhati-hati dalam berbagi hal pribadi.

Hubungan baik didasari oleh kepercayaan, dan kita seharusnya berbagi hal pribadi hanya dengan orang yang bisa dipercaya. Ketika kita memiliki orang tua toxic, kepercayaan itu tidak ada karena mereka terbiasa mengkritik, membicarakan hal buruk tentang anak, dan mengatakan hal pribadi orang lain tanpa izin.

  1. Selalu mempunyai rencana cadangan untuk pergi.

Apabila orang tua toxic sudah melewati batas, keadaan akan menjadi sangat buruk sehingga harus ada tindakan terencana yang bisa dilakukan untuk menjauh dari orang tua seperti ini.

  1. Jangan mencoba memberikan alasan.

Sulit sekali untuk memberikan alasan yang masuk akal dari persepsi seorang anak karena orang tua toxic itu biasanya tidak rasional, tidak dewasa, atau selalu dalam keadaan mabuk. Kita tidak akan bisa punya hubungan yang sehat dan dewasa apabila ada pihak tanpa pikiran yang terbuka dan tanpa empati. Lebih baik tidak terlibat dalam argumentasi lama yang bisa berakhir pada saling hina dan sikap tidak sopan lainnya.

  1. Sayangi diri sendiri.

Menghadapi orang tua toxic bisa membuat stress. Dalam jangka panjang, ini berefek negatif terhadap kesehatan mental dan fisik. Dengan menyayangi diri sendiri, kita bisa lebih mudah menetapkan batasan diri, memilih respon berbeda, atau melepaskan diri dari lingkungan toxic.

References

  1. Martin, S (2018). 10 ways to free yourself from toxic parents [online]. com available at : https://livewellwithsharonmartin.com/free-yourself-from-toxic-parents/
  2. Indrawati,. E.S et al (2014). Profil keluarga disfungsional pada penyandang masalah sosial di kota semarang. Jurnal psikologi undip [online] volume 13(2), pages : 120-132 available at : file:///C:/Users/User/Downloads/8083-17758-1-SM%20(1).pdf
  3. , Blaz (2019). Toxic parents – parents who do unloving things in the name of love – book summary.[online]. Available at : https://agileleanlife.com/toxic-parents/
  4. org (2015). Normal functional family : is there any way to tell if my family is functioning normally?. [online] available at : https://www.healthychildren.org/English/family-life/family-dynamics/Pages/Normal-Family-Functioning.aspx
  5. Forward, S., Buck, C. (2002). Toxic Parenting: Overcoming Their Hurtful Legacy and Reclaiming Your Life. New York: Bantam Books.
  6. https://www.merriam-webster.com/dictionary/toxic

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *